Thursday, May 29, 2014

HIV BASICS WITH INSPIRED

Here's a video we made on HIV BASICS.
HIV & Transmission
In this part, we explain to you what is HIV/AIDS, how it is transmitted, and share 5 facts you should know about people living with HIV/AIDS.

Educate yourself, inform others, you can help to end the stigma!

Visit our youtube channel for our other videos!

Thursday, May 22, 2014

PENCEGAHAN DAN PENANGANAN HIV/AIDS

Pencegahan HIV/AIDS
We believe that mencegah lebih baik daripada mengobati!
Pencegahan terhadap HIV/AIDS dilakukan dengan:
    •    Abstinence – Tidak berhubungan seks
    •    Be Faithful – Selalu setia pada pasangan
    •    Condom – Gunakan kondom di setiap hubungan seks berisiko
    •    No Drugs –  Jauhi narkoba.

Program Prevention of Mother To Child HIV Transmission (PMTCT)
Dalam program PMTCT, ibu yang mengidap HIV/AIDS harus mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) untuk mencegah penularan virus HIV/AIDS. Obat tersebut harus dikonsumsi sebagai cara menjaga kestabilan virus dan tidak menularkan kepada bayi dalam kandungan.

Selain mengonsumsi obat, ibu pengidap HIV/AIDS harus melahirkan melalui proses bedah caesar. Sang ibu pun dilarang memberikan ASI sedikitpun kepada bayi agar virus tidak tertular dalam tubuhnya.

Setelah program masa kehamilah dan proses bersalin selesai, bayi juga perlu memeriksakan diri melalui tes Viral Load, Rapid, atau Elisa (enzyme-linked immunoabsorbent) antibody test untuk mengetahui perkembangan virus HIV dalam darah bayi. Tes Viral Load dijalani ketika bayi berusia 18 bulan. Usia tersebut dianggap sudah bisa terlihat perkembangan virus. Selama 18 bulan tersebut, bayi juga dianggap masih memiliki kekebalan tubuh dari ibu.

Penanganan HIV/AIDS
Penanganan  HIV dan AIDS pada dasarnya meliputi aspek Medis Klinis, Psikologis dan Aspek Sosial yang meliputi pengobatan supportive (dukungan)  dan pengobatan infeksi oportunistik dan pengobatan antiretroviral.

ARV atau Antiretroviral
ARV merupakan singkatan dari Antiretroviral, yaitu obat yang dapat menghentikan reproduksi HIV didalam tubuh. Standard antiretroviral therapy (ART) adalah terapi hiv/aids menggunakan kombinasi dari minimal 3 obat ARV. Kombinasi beberapa obat antiretroviral diketahui sebagai terapi antiretrovirus yang sangat aktif (highly active antiretroviral therapy, disingkat HAART).

Bila pengobatan tersebut bekerja secara efektif, maka kerusakan kekebalan tubuh dapat ditunda bertahun–tahun dan dalam rentang waktu yang cukup lama sehingga orang yang terinfeksi HIV dapat mencegah AIDS. Dengan semakin meningkatnya jumlah kasus infeksi HIV, ARV memiliki peran penting dalam menciptakan masyarakat sehat melalui strategi penanggulangan AIDS yang memadukan upaya pencegahan dengan upaya perawatan, dukungan serta pengobatan.

Hingga saat ini, ARV masih merupakan cara paling efektif serta mampu menurunkan angka kematian dan berdampak pada peningkatan kualitas hidup orang terinfeksi HIV sekaligus meningkatkan harapan masyarakat untuk hidup lebih sehat. Meskipun begitu, di beberapa negara, obat anti-retrovirus masih berharga mahal, dan mayoritas individu terinfeksi di dunia tidaklah memiliki akses terhadap pengobatan dan perawatan untuk HIV dan AIDS tersebut.

Di Indonesia, ARV masuk pada tahun 1997, dengan cara diimpor. Harganya saat itu sangat tinggi. Kemudian, ARV generik datang pada 2001 tapi harganya juga masih tinggi, mencapai 1 juta rupiah. Indonesia juga mengimpor ARV generik dari India. Sejak itu ARV dapat dibeli dengan harga lebih murah.

Pada tahun 2008, Kementerian Kesehatan mengalokasikan dana sekitar Rp 40 miliar untuk pengadaan obat ARV gratis bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Untuk mendapat obat gratis ini ada persyaratan yang harus dipenuhi, seperti bukti pemeriksaan laboratorium bahwa pasien tersebut terinfeksi HIV/AIDS. Persyaratan ini diterapkan untuk menghindari penggunaan ARV secara sembarangan.

Saat ini, terapi ARV (ART) tersedia gratis melalui 75 rumah sakit (RS) rujukan di seluruh Indonesia, dan beberapa klinik satelit lain. Namun menurut data dari UNAIDS Asia Pacific hanya 17% dari ODHA yang sudah memenuhi syarat untuk mendapatkan ARV di Indonesia, yang benar-benar menerimanya.

Addition info:
Daftar Rumah Sakit Rujukan AIDS di Indonesia http://spiritia.or.id/rsrujukan.php
Download Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral  disini www.spiritia.or.id/Dok/pedomanart2011.pdf
Download Pedoman bersama ILO/WHO  tentang Pelayanan Kesehatan dan HIV/AIDS disini
www.who.int/hiv/pub/guidelines/who_ilo_guidelines_indonesian.pdf



Sources: aidsindonesia.or.id, id.wikipedia.org, aids-ina.org, UNAIDS 2013 Asia Pacific report, nationalgeographic.co.id, spiritia.or.id, who.int

Saturday, May 17, 2014

TAHAPAN INFEKSI HIV HINGGA MENJADI AIDS

 Ilustrasi Human Immunodeficiency Virus (HIV)

Human Immunodeficiency Virus (HIV) penyebab AIDS tidak langsung menampakkan gejala infeksinya pada manusia. Manusia, sebagai korban infeksi, juga tidak langsung merasakan dampak virus berbahaya tersebut bagi tubuhnya.

Virus membutuhkan waktu 5-10 tahun sampai menimbulkan gejala. Saat waktu yang dibutuhkan terpenuhi, penyakit AIDS sudah menjangkiti tubuh seseorang yang terinfeksi. Selama kurun waktu tersebut, ada beberapa tahapan infeksi hingga HIV kemudian berkembang menjadi AIDS.

1. Tahap pertama (periode jendela)
a. HIV masuk ke dalam tubuh hingga terbentuk antibodi dalam darah.
b. Orang yang terinfeksi HIV tampak dan merasa sehat.
c. Pada tahap ini, tes HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus.
d. Tahap ini berlangsung selama 2 minggu sampai 6 bulan.

2. Tahap kedua
a. Pada tahap ini HIV mulai berkembang di dalam tubuh.
b. Tes HIV sudah bisa mendeteksi keberadaan virus karena antibodi yang mulai terbentuk.
c. Orang yang terinfeksi tampak sehat selama 5-10 tahun, bergantung pada daya tahan. Rata-rata bertahan selama 8 tahun. Namun di negara berkembang, durasi tersebut lebih pendek.

3. Tahap ketiga
a. Pada tahap ini seseorang dipastikan positif HIV dengan sistem kekebalan tubuh yang semakin menurun.
b. Mulai muncul gejala infeksi oportunistis, misalnya pembengkakan kelenjar limfa atau diare terus-menerus.
c. Umumnya tahap ini berlangsung selama 1 bulan, bergantung pada daya tahan tubuh masing-masing.

4. AIDS
a. Pada tahap ini, seseorang positif mengidap AIDS.
b. Sistem kekebalan tubuh semakin turun.
c. Berbagai penyakit lain (infeksi oportunistis) menyebabkan kondisi ODHA semakin parah.
Pada tahap ini, ODHA harus secepatnya dibawa ke dokter dan menjalani terapi anti-retroviral virus (ARV). Terapi ARV akan mengendalikan virus HIV dalam tubuh sehingga dampak virus bisa ditekan.

Saturday, May 10, 2014

GEJALA HIV/AIDS DAN TEST HIV

Gejala HIV/AIDS
Sayangnya, tidak seperti penyakit lain, infeksi HIV tidak langsung menunjukkan gejala. Biasanya dibutuhkan waktu 5 tahun sampai akhirnya gejala HIV bisa terlihat.

Berikut ini beberapa gejala AIDS yang dialami usia dewasa dan anak berdasarkan informasi dari Komisi Penanggulangan AIDS Nasional :
1. Dewasa
Gejala mayor :
a. Kehilangan 10 persen berat selama lebih dari 1 bulan tanpa sebab
b. Diare lebih dari satu bulan
c. Demam lebih dari satu bulan, baik konstan atau datang-pergi
Gejala Minor :
a. Batuk kering yang tak kunjung sembuh
b. Kulit gatal di seluruh tubuh
c. Herpes Zoster yang tak kunjung sembuh
d. Terinfeksi jamur yang mengakibatkan ruam pada mulut, lidah, atau tenggorokan
e. Pembengkakan kelenjar di leher, ketiak, atau selangkangan, dengan atau tanpa infeksi aktif.

2. Anak
Gejala mayor :
a. Berat badan rendah, atau pertumbuhan lambat
b. Diare berat selama lebih dari 14 hari lebih
c. Demam selama lebih dari satu bulan

Gejala minor :
a. Kulit gatal di seluruh tubuh
b. Pembengkakan kelenjar di leher, ketiak, atau selangkangan
c. Bintik putih akibat jamur di dalam mulut, lidah, atau tenggorokan
d. Infeksi pada telinga, tenggorokan, atau organ lainnya
e. Batuk yang tidak kunjung sembuh

Pada orang dewasa, gejala AIDS sudah bisa didiagnosis bila memiliki 2 tanda mayor dan 1 gejala minor. Gejala semakin lengkap bila penderita mengidap kanker kulit yang disebut karposi atau kriptokokal meningitis. Karposi adalah bintik kemerahan, hitam, atau ungu yang bisa membesar dan terasa sakit. Sedangkan kriptokokal meningitis adalah infeksi yang meliputi otak hingga menyebabkan demam, kaku leher, sakit kepala, kebingungan, dan ketidakmampuan bangun.

Bagaimana cara mengetahui status HIV?
Orang yang sedang dalam tahap HIV tidak bisa kita kenali. Mereka tampak sehat dan tidak menunjukkan gejala penyakit apapun. Status terinfeksi HIV hanya dapat diketahui setelah mengikuti test HIV yang disertai konseling. Segera kunjungi fasilitas kesehatan terdekat (Klinik VCT) untuk tes HIV.


Apa yang dimaksud dengan test HIV?
Layanan test HIV dan konseling ini disebut sebagai VCT (Voluntary Counseling and Testing). Tes HIV biasanya berupa tes darah untuk memastikan adanya antibodi HIV di dalam sampel darah.  Tes HIV bersifat sukarela dan rahasia. Sebelum melakukan tes HIV, akan dilakukan konseling untuk mengetahui tingkat risiko infeksi dari perilaku selama ini dan bagaimana nantinya harus bersikap setelah mengetahui hasil tes HIV. Untuk tes cepat dapat juga digunakan tes usapan selaput lendir mulut (Oraquick).

Semua orang sebaiknya melakukan test HIV
Semua orang sebaiknya melakukan test HIV, terlepas dari apakah orang tersebut melakukan perilaku beresiko atau tidak. Mengetahui status HIV mu sangat penting, bila ternyata seseorang mendapat hasil positif terinfeksi, penanganan dapat dilakukan secepatnya. Saat ini sudah banyak tersedia test HIV gratis yang diadakan oleh berbagai lembaga masyarakat di Indonesia. Yang seringkali masih menjadi masalah adalah stigma di masyarakat. Orang menjadi takut dan segan atau malu untuk melakukan test HIV, karena judgement yang datang dari orang sekitarnya.