Pencegahan HIV/AIDS
We believe that mencegah lebih baik daripada mengobati!
Pencegahan terhadap HIV/AIDS dilakukan dengan:
• Abstinence – Tidak berhubungan seks
• Be Faithful – Selalu setia pada pasangan
• Condom – Gunakan kondom di setiap hubungan seks berisiko
• No Drugs – Jauhi narkoba.
Program Prevention of Mother To Child HIV Transmission (PMTCT)
Dalam program PMTCT, ibu yang mengidap HIV/AIDS harus mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) untuk mencegah penularan virus HIV/AIDS. Obat tersebut harus dikonsumsi sebagai cara menjaga kestabilan virus dan tidak menularkan kepada bayi dalam kandungan.
Selain mengonsumsi obat, ibu pengidap HIV/AIDS harus melahirkan melalui proses bedah caesar. Sang ibu pun dilarang memberikan ASI sedikitpun kepada bayi agar virus tidak tertular dalam tubuhnya.
Setelah program masa kehamilah dan proses bersalin selesai, bayi juga perlu memeriksakan diri melalui tes Viral Load, Rapid, atau Elisa (enzyme-linked immunoabsorbent) antibody test untuk mengetahui perkembangan virus HIV dalam darah bayi. Tes Viral Load dijalani ketika bayi berusia 18 bulan. Usia tersebut dianggap sudah bisa terlihat perkembangan virus. Selama 18 bulan tersebut, bayi juga dianggap masih memiliki kekebalan tubuh dari ibu.
Penanganan HIV/AIDS
Penanganan HIV dan AIDS pada dasarnya meliputi aspek Medis Klinis, Psikologis dan Aspek Sosial yang meliputi pengobatan supportive (dukungan) dan pengobatan infeksi oportunistik dan pengobatan antiretroviral.
ARV atau Antiretroviral
ARV merupakan singkatan dari Antiretroviral, yaitu obat yang dapat menghentikan reproduksi HIV didalam tubuh. Standard antiretroviral therapy (ART) adalah terapi hiv/aids menggunakan kombinasi dari minimal 3 obat ARV. Kombinasi beberapa obat antiretroviral diketahui sebagai terapi antiretrovirus yang sangat aktif (highly active antiretroviral therapy, disingkat HAART).
Bila pengobatan tersebut bekerja secara efektif, maka kerusakan kekebalan tubuh dapat ditunda bertahun–tahun dan dalam rentang waktu yang cukup lama sehingga orang yang terinfeksi HIV dapat mencegah AIDS. Dengan semakin meningkatnya jumlah kasus infeksi HIV, ARV memiliki peran penting dalam menciptakan masyarakat sehat melalui strategi penanggulangan AIDS yang memadukan upaya pencegahan dengan upaya perawatan, dukungan serta pengobatan.
Hingga saat ini, ARV masih merupakan cara paling efektif serta mampu menurunkan angka kematian dan berdampak pada peningkatan kualitas hidup orang terinfeksi HIV sekaligus meningkatkan harapan masyarakat untuk hidup lebih sehat. Meskipun begitu, di beberapa negara, obat anti-retrovirus masih berharga mahal, dan mayoritas individu terinfeksi di dunia tidaklah memiliki akses terhadap pengobatan dan perawatan untuk HIV dan AIDS tersebut.
Di Indonesia, ARV masuk pada tahun 1997, dengan cara diimpor. Harganya saat itu sangat tinggi. Kemudian, ARV generik datang pada 2001 tapi harganya juga masih tinggi, mencapai 1 juta rupiah. Indonesia juga mengimpor ARV generik dari India. Sejak itu ARV dapat dibeli dengan harga lebih murah.
Pada tahun 2008, Kementerian Kesehatan mengalokasikan dana sekitar Rp 40 miliar untuk pengadaan obat ARV gratis bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Untuk mendapat obat gratis ini ada persyaratan yang harus dipenuhi, seperti bukti pemeriksaan laboratorium bahwa pasien tersebut terinfeksi HIV/AIDS. Persyaratan ini diterapkan untuk menghindari penggunaan ARV secara sembarangan.
Saat ini, terapi ARV (ART) tersedia gratis melalui 75 rumah sakit (RS) rujukan di seluruh Indonesia, dan beberapa klinik satelit lain. Namun menurut data dari UNAIDS Asia Pacific hanya 17% dari ODHA yang sudah memenuhi syarat untuk mendapatkan ARV di Indonesia, yang benar-benar menerimanya.
Addition info:
Daftar Rumah Sakit Rujukan AIDS di Indonesia
http://spiritia.or.id/rsrujukan.php
Download Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral disini
www.spiritia.or.id/Dok/pedomanart2011.pdf
Download Pedoman bersama ILO/WHO tentang Pelayanan Kesehatan dan HIV/AIDS disini
www.who.int/hiv/pub/guidelines/who_ilo_guidelines_indonesian.pdf
Sources:
aidsindonesia.or.id,
id.wikipedia.org,
aids-ina.org, UNAIDS 2013 Asia Pacific report,
nationalgeographic.co.id,
spiritia.or.id,
who.int