Saturday, June 28, 2014

The Inspiring Ayu Oktariani

Pada 18 Juni 2014 lalu, team Inspired mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi kantor Odha Berhak Sehat dan bertemu dengan Public Campaigner OBS, Kak Ayu Oktariani.

It was a pleasure to meet her. She's such a positive, friendly and inspiring person.

Dalam video ini, kak Ayu bercerita singkat seputar dirinya, ODHA dan persoalan HIV/AIDS di Indonesia.




Follow Ayu Oktariani on twitter

Odha Berhak Sehat:

Tuesday, June 17, 2014

LET'S BE HIV NEUTRAL!!

Sebagai anak muda, it is our part to help building a healthier and happier generation. Salah satu caranya adalah dengan menjadi anak muda yang HIV Neutral. Menjadi anak muda yang HIV Neutral, apa sih maksudnya?

Menjadi anak muda yang HIV Neutral adalah menjadi anak muda yang....
1. Smart & informed.
Jadi anak muda yang smart! Jangan mau percaya sama mitos atau hoax yang beredar tentang HIV/AIDS dan ODHA. Kita harus secara komprehensif tau faktanya mengenai isu HIV/AIDS dan ODHA.

2. Cautious & safe.
Jadi anak muda yang bisa menjaga diri. Selalu berhati-hati dan jauhi perilaku beresiko. Protect yourself!

3. Aware & care.
Jadi anak muda yang sadar & peduli bahwa persoalan HIV/AIDS bukan hanya merupakan isu kesehatan, tapi juga merupakan sosial yg seharusnya diketahui & diperhatikan oleh semua orang.

4. Open minded & understanding.
Jadi anak muda yang ga berpikiran sempit dan mengerti bahwa yang ODHA butuhkan bukanlah judgement, apalagi discrimination.

5. Stigma free.
Tidak mempunyai, apalagi menyebarkan stigma terhadap ODHA.

Yuk temen-temen kita mulai menjadi anak muda yang HIV Neutral. If you want to see a change in this world, it has to start from yourself! Together we can end the stigma :)

Wednesday, June 11, 2014

A Story on Living With HIV

A video worth to watch! Sebuah video testimoni, dari Dab Garner tentang hidup dengan HIV.
Source: We Make The Change

"There has always been stigma. People unfortunately still think this is a gay disease, which has never been just a gay disease. This is a virus. A virus doesn't care what your sexuality is, what race you are, how much money u make, where you live. It can infect anyone." - Dab




Friday, June 6, 2014

HAM DAN HIV/AIDS

Memajukan hak asasi manusia dalam konteks HIV dan AIDS berarti
  • mendorong orang agar menghormati hak masing-masing, dan memperlakukan orang lain dengan cara mereka ingin diperlakukan sendiri
  • menjamin bahwa penyuluhan dan akses terhadap layanan kesehatan tersedia untuk semua
  • membimbing orang untuk membantu mereka mengatasi rasa takut, ketidaktahuan dan prasangka yang akan mendorong mereka menginjak hak orang lain

Melindungi hak asasi manusia berarti:
  • mendukung dan membela orang yang haknya terancam atau terinjak
  • memperbaiki dan mengimbangi pelanggaran apabila terjadi
  • mengupayakan mengubah kondisi kemiskinan, ketidakberdayaan dan ketergantungan yang membuat orang rentan terhadap pelanggaran hak mereka

HAM yang diakui pada tingkat internasional
Hak asasi manusia yang tercantum di bawah ini diikuti oleh pelanggaran yang umumnya terjadi berkaitan dengan Odha atau kelompok rentan:

Kebebasan, keamanan dan kebebasan gerak
•    tes HIV yang dipaksakan
•    karantina, pengasingan/isolasi dan pemisahan

Kebebasan dari perlakuan yang tidak manusiawi atau penghinaan
•    isolasi, misalnya pada narapidana yang HIV-positif
•    keterlibatan dalam uji coba klinis tanpa persetujuan berdasarakan informasi yang lengkap

Perlindungan oleh hukum yang sama
•    tidak diberikan nasihat atau layanan hukum

Hak pribadi
•    hasil tes tidak dirahasiakan atau diumumkan tanpa persetujuan
•    nama Odha wajib dilaporkan ke instansi kesehatan yang berwenang (yang membuat HIV penyakit yang wajib dilaporkan)

Penentuan nasib sendiri
•    orang yang rentan terhadap atau terpengaruh oleh HIV dilarang berkumpul

Hak untuk menikah, mempunyai keluarga dan menjalin hubungan
•    aborsi atau sterilisasi yang dipaksakan
•    tes HIV yang diwajibkan sebelum menikah
•    diskriminasi terhadap hubungan sesama jenis

Ketersediaan yang sama terhadap layanan kesehatan
•    kekurangan obat yang sesuai, kondom dll.
•    penolakan untuk merawat atau mengobati Odha

Pendidikan
•    tidak tersedianya informasi yang memungkinkan orang membuat pilihan yang berdasarkan informasi lengkap
•    penolakan untuk memberikan pendidikan karena status HIV

Kesejateraan sosial dan perumahan
•    penolakan ketersediaan perumahan atau layanan sosial

Pekerjaan
•    pemecatan dari, atau diskriminasi di tempat kerja
•    asuransi atau tunjangan lain yang terbatas atau tidak tersedia sama sekali
•    tes HIV sebagai prasyarat untuk pekerjaan


Source: Pemberdayaan Positif, Lembaran Informasi No. 2 (diedit terakhir pada 9 Mei 2008)

Tuesday, June 3, 2014

INDONESIA'S INCREASING HIV INFECTION

Based on UNAIDS Estimates 2012, below are the 12 countries with highest HIV burden and new HIV infection trends.
 
As we can see on the picture above, Indonesia is included in the list. Indonesia is one of the countries globally, with an increasing HIV epidemic. According to UNAIDS Asia Pacific Report, there were 638.000 people living with HIV in Indonesia and an estimated 76.000 new infections in 2013.



Injecting drugs has been reported to be a significant factor in the spread of HIV in Indonesia. In 2012, HIV prevalence among Indonesian people who inject drugs was 36,4%.

Beside drug users, another significant factor in the spread of HIV is through commercial sexual course. Clients of sex workers are the largest population at risk of HIV infection in Asia and the Pacific, including Indonesia. According to population-based surveys, 0.5%–15% of men in the region bought sex in the previous year.

This population’s risk behaviour determines the extent of the spread of HIV, but there are limited data available on prevalence trends among clients of sex workers, and they are underserved by current HIV programmes. This emphasizes the need for more prevention efforts among key populations and reaching the female partners of men at higher risk both through key population programming and mainstreaming sexual and reproductive health services.

While evidence indicates that the majority of women in the region are acquiring HIV through their partners who engage in high-risk behaviour (including as
 sex work clients, through male-to-male sex or injecting drug use), policies and programmes to address intimate partner transmission are limited.

Source: HIV in Asia and the Pacific UNAIDS report 2013

Thursday, May 29, 2014

HIV BASICS WITH INSPIRED

Here's a video we made on HIV BASICS.
HIV & Transmission
In this part, we explain to you what is HIV/AIDS, how it is transmitted, and share 5 facts you should know about people living with HIV/AIDS.

Educate yourself, inform others, you can help to end the stigma!

Visit our youtube channel for our other videos!

Thursday, May 22, 2014

PENCEGAHAN DAN PENANGANAN HIV/AIDS

Pencegahan HIV/AIDS
We believe that mencegah lebih baik daripada mengobati!
Pencegahan terhadap HIV/AIDS dilakukan dengan:
    •    Abstinence – Tidak berhubungan seks
    •    Be Faithful – Selalu setia pada pasangan
    •    Condom – Gunakan kondom di setiap hubungan seks berisiko
    •    No Drugs –  Jauhi narkoba.

Program Prevention of Mother To Child HIV Transmission (PMTCT)
Dalam program PMTCT, ibu yang mengidap HIV/AIDS harus mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) untuk mencegah penularan virus HIV/AIDS. Obat tersebut harus dikonsumsi sebagai cara menjaga kestabilan virus dan tidak menularkan kepada bayi dalam kandungan.

Selain mengonsumsi obat, ibu pengidap HIV/AIDS harus melahirkan melalui proses bedah caesar. Sang ibu pun dilarang memberikan ASI sedikitpun kepada bayi agar virus tidak tertular dalam tubuhnya.

Setelah program masa kehamilah dan proses bersalin selesai, bayi juga perlu memeriksakan diri melalui tes Viral Load, Rapid, atau Elisa (enzyme-linked immunoabsorbent) antibody test untuk mengetahui perkembangan virus HIV dalam darah bayi. Tes Viral Load dijalani ketika bayi berusia 18 bulan. Usia tersebut dianggap sudah bisa terlihat perkembangan virus. Selama 18 bulan tersebut, bayi juga dianggap masih memiliki kekebalan tubuh dari ibu.

Penanganan HIV/AIDS
Penanganan  HIV dan AIDS pada dasarnya meliputi aspek Medis Klinis, Psikologis dan Aspek Sosial yang meliputi pengobatan supportive (dukungan)  dan pengobatan infeksi oportunistik dan pengobatan antiretroviral.

ARV atau Antiretroviral
ARV merupakan singkatan dari Antiretroviral, yaitu obat yang dapat menghentikan reproduksi HIV didalam tubuh. Standard antiretroviral therapy (ART) adalah terapi hiv/aids menggunakan kombinasi dari minimal 3 obat ARV. Kombinasi beberapa obat antiretroviral diketahui sebagai terapi antiretrovirus yang sangat aktif (highly active antiretroviral therapy, disingkat HAART).

Bila pengobatan tersebut bekerja secara efektif, maka kerusakan kekebalan tubuh dapat ditunda bertahun–tahun dan dalam rentang waktu yang cukup lama sehingga orang yang terinfeksi HIV dapat mencegah AIDS. Dengan semakin meningkatnya jumlah kasus infeksi HIV, ARV memiliki peran penting dalam menciptakan masyarakat sehat melalui strategi penanggulangan AIDS yang memadukan upaya pencegahan dengan upaya perawatan, dukungan serta pengobatan.

Hingga saat ini, ARV masih merupakan cara paling efektif serta mampu menurunkan angka kematian dan berdampak pada peningkatan kualitas hidup orang terinfeksi HIV sekaligus meningkatkan harapan masyarakat untuk hidup lebih sehat. Meskipun begitu, di beberapa negara, obat anti-retrovirus masih berharga mahal, dan mayoritas individu terinfeksi di dunia tidaklah memiliki akses terhadap pengobatan dan perawatan untuk HIV dan AIDS tersebut.

Di Indonesia, ARV masuk pada tahun 1997, dengan cara diimpor. Harganya saat itu sangat tinggi. Kemudian, ARV generik datang pada 2001 tapi harganya juga masih tinggi, mencapai 1 juta rupiah. Indonesia juga mengimpor ARV generik dari India. Sejak itu ARV dapat dibeli dengan harga lebih murah.

Pada tahun 2008, Kementerian Kesehatan mengalokasikan dana sekitar Rp 40 miliar untuk pengadaan obat ARV gratis bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Untuk mendapat obat gratis ini ada persyaratan yang harus dipenuhi, seperti bukti pemeriksaan laboratorium bahwa pasien tersebut terinfeksi HIV/AIDS. Persyaratan ini diterapkan untuk menghindari penggunaan ARV secara sembarangan.

Saat ini, terapi ARV (ART) tersedia gratis melalui 75 rumah sakit (RS) rujukan di seluruh Indonesia, dan beberapa klinik satelit lain. Namun menurut data dari UNAIDS Asia Pacific hanya 17% dari ODHA yang sudah memenuhi syarat untuk mendapatkan ARV di Indonesia, yang benar-benar menerimanya.

Addition info:
Daftar Rumah Sakit Rujukan AIDS di Indonesia http://spiritia.or.id/rsrujukan.php
Download Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral  disini www.spiritia.or.id/Dok/pedomanart2011.pdf
Download Pedoman bersama ILO/WHO  tentang Pelayanan Kesehatan dan HIV/AIDS disini
www.who.int/hiv/pub/guidelines/who_ilo_guidelines_indonesian.pdf



Sources: aidsindonesia.or.id, id.wikipedia.org, aids-ina.org, UNAIDS 2013 Asia Pacific report, nationalgeographic.co.id, spiritia.or.id, who.int